Senin, 29 April 2013

FARMAKOLOGI



OBAT ANTIEMETIK

Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Farmakologi


Oleh

ANIS FADILAH
12621254
1B KEBIDANAN

Prodi D-3 Kebidanan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
2013




BAB 1
PENDAHULUAN

A.       DEFINISI ANTIEMETIK
Antiemetik adalah obat-obatan yang digunakan dalam penatalaksanaan mual dan muntah. Obat-obatan tersebut bekerja dengan cara mengurangi hiperaktifitas refleks muntah menggunakan satu dari dua cara: secara lokal, untuk mengurangi respons lokal terhadap stimulus yang dikirim ke medula guna memicu terjadinya muntah, atau secara sentral, untuk menghambat CTZ secara langsung atau menekan pusat muntah. Antiemetik yang bekerja secara lokal dapat berupa anastid, anestesi lokal, adsorben, obat pelindung yang melapisi mukosa GI, atau obat yang mencegah distensi dan menstimulasi peregangan saluran GI. Agen ini sering kali digunakan untuk mengatasi mual yang ringan.
Antiemetik yang bekerja secara sentral terbagi atas beberapa kelompok: fenootiazin, nonfenotiazin, penyekat reseptor serotonin (5-HT3), antikolinergik/antihistamin, dan kelompok yang bermacam-macam. Dua jenis fenotiazin yang umum digunakan adalah proklorperazin (compazine) dan prometazin (phenergan) keduanya memiliki awitan yang cepat dan efek merugikan yang terbatas.
Agen lainnya adalah dronabinol (marinol), yang mengandung bahan aktif kanabis (mariyuana), hidroksizin (generik) yang dapat menekan area kortikol pada SSP dan trimetobenzamid (tigan), ini serupa dengan antihistamin dan tidak menimbulkan sedeasi. Trimetobenzamid sering kasli merupakan obat pilihan dalam kelompok ini karena tidak dikaitkan dengann sedadi yang berlebihan dan sepresi SSP. Obat ini tersedian dalam bentuk oral,parenteral,dan surositoria. Obat ini diabrsorpsi dengan cepat, di metabolisme dalam hati dan diekskresi melalui urine. Obat ini menembus plasenta dan menembus ASI, dan digunakan jika manfaatnya lebih besar pada ibu dari pada resiko potensial pada janin atau neonatus.
Hidroksizin digunakan untuk mual dan muntah sebelum dan sesudah pelahiran atau pembedahan obsterik. Obat ini diabsorpsi dengan cepat, dimetabolisme dalam hati dan diekskresi melalui urine. Obat ini tidak dikaitkan dengan masalah pada janin selama kehamilan dan diperkirakan tidak masuk  ke ASI. Sama halnya dengan semua jenis obat, kewaspadaan perlu digunakan selama kehamilan dan laktasi.
Dronabinol disetujui untuk penatalaksanaan mual dan muntah yang berkaitan dengan kemoterapi kanker jika pasien tidak berespons terhadap pengobatan lain. Mekanisme kerja obat ini masih belum diketahui dengan cepat. Obat ini merupakan zat yang dikendalikan kategori C-III, dan harus digunakan di bawah pengawasan ketat karena adanya kemungkinan perubahan status mental. Obat ini diabsobsi dengan mudah dan dimetabolisme dalam hati dengan ekskresi melalui empedu dan urine.
B.       Perfenazin (trilafon)
Sediaan :Tablet.
Kelompok Obat: Antipsikotik(antiemetik)
Mekanisme Kerja: Tidak begitu jelas, diduga menghambat reseptor dopamine pada mesokortikal-mesolimbik otak depan, nigrostriatal, dan sel mamotropi hipofise anterior.
Indikasi: Skizofrenia kronis atau akut, ansites berat, ansietas yang disertai depresi, depresi karena penyakit organis, antiemetic terutama pasca operasi.
Kontraindikasi: Wanita hamil dan menyusui, depresi SSP atau koma, sindrom Reye, anak-anak, MCI. Hati-hati pemberian pada penyakit hati.
Efek samping: Pandangan kabur, salivasi, hidung tersumbat, sakit kepala, reaksi ekstrapiramidal, dikinesia tardif.
Interaksi Obat: Tidak boleh diberikan bersama penghambat MAO karena menimbulkan hiperpiretik krisis. Epinefrin tidak boleh diberikan bersama karena mengantagonis obat ini. Simetidin menurunkan metabolism perferazin. Paralitik ileus dapat terjadi bila digabung dengan obat antikolinergik.
Dosis
Skizofernia: dewasa: 8-32 mg/hari dosis terbagi.
Antiemetic: dewasa: oral: 4-6 x 2-4 mg/hari.
IM: 5 mg atau 10 mg






















BAB II
MEKANISME

C.  Farmakologi
Perfenazin merupakan obat anitiemetik yang paling sering diresepkan karena obat ini dapat diberikan peroral, intramuskular, dan per rektal.

D.  Farmakokinetika
Absorpsi bentuk padat oral dari perfenazin tidak menentu, tetapi bentuk cairnya lebih stabil dan laju absorpsinya lebih cepat. Presentase peningkatan pada protein dan waktu paruhnya tidak diketahui. Perfenazin dimetabolisme oleh hati dan mukosa gastrointestinal dan kebanyakan dari obat diekskresikan ke dalam urine.

E.  Farmakodinamik
Perfenazin menghambat dopamin pada CTZ, sehingga mengurangi perangsangan CTZ pada pusat muntah. Obat ini juga dipakai sebagai antipsikotik. Mula kerja dari perfenazin oral bervariasi dari 2 sampai 6 jam, dan lama kerjanya dari 6 sampai 12 jam. Mula kerja dari perferazin intravena dan intramuskular cepat, dan lama kerjanya sama dengan preparat oral.


BAB III
SPESIFIKASI OBAT

F.       Khasiat
Untuk Skizofrenia kronis atau akut, ansites berat, ansietas yang disertai depresi, depresi karena penyakit organis, antiemetic terutama pasca operasi.

G.      Kategori keamanan untuk ibu hamil
Perfenazine menurut kategori spesifik menurut rute pemberiannya (rute administration atau ROA) adalah secara per oral. Dan keamanan obat dalam kehamilan masuk kedalam KATEGORI C yaitu studi terhadap binatang percobaan memperlihatkan adanya efek-efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau belum ada studi terkontrol pada wanita dan binatang percobaan. Obat hanya boleh digunakan jika besar manfaat yang diharapkan melebihi besar risiko terhadap janin. 

H.      Efek Samping
Efek samping antiemetik penotiazin adalah sedasi sedang, hipotensi gelaja
ekstrapirmidal, yang seperti perkinsonisme, efek SSP (kegelisahan, kelemahan, reaksi distonik, agitasi), dan gejala antikoligenik ringan (mulut kering, retensi air kemih,konstipasi). Karenan dosis obat ini untuk muntah lebih ringan daripada dosis psikosis, maka efek samping yang ditimbulkan juga tidak seberat bila dipakai untuk psikosis.


I.         Interaksi Obat dan Interaksi Makanan
Interaksi obat
                        Perfenazin berinteraksi dengan banyak obat. Jika perfenazin dipakai bersama alkohol, anthihipertensi, dan nitrat maka dapat terjadi hipotensi. Dapat pula terjadi bertambah beratnya depresi susunan saraf pusat (SSP) jika obat ni dipakai bersama dengan alkohol, narkotik, hipnotik-sedatif, dan anestetik umum. Efek antikoligenik akan menigkat jika perfenazin dikombinasikan dengan antihistamin, antikoligenik seperti atripin, dan fenotiazin lainnya. Hasil pemeriksaan laboraturium dapat menunjukkan penigkatan kadar enzim hati dan jantung, kolesterol dan gula darah dalam serum.

J.        Dosis
Dosis umum: 8-16 mg/hari PO dalam dosis terbagi; 5-10 mg IM untuk pengontrolan yang cepat, setiap 6 jam; 5 mg IV dalam dosis terbagi, secara perlahan.



DAFTAR PUSTAKA

Karch, Amy M. 2003. Buku Ajar Farmakologi Keperawatan. Jakarta: EGC
Kee, Joyce L, dan Evelyn R. Hayes.1996. Farmakologi. Jakarta: EGC

SINGLE PARENT

A.      Pengertian, Fungsi dan Bentuk-bentuk Keluarga
Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga dan makan dalam satu periuk.

Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu:
  1. Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
  2. Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya,1978 ).
  3. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988). 

Suatu keluarga setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan darah atau adopsi.
  2. Anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka membentuk satu rumah tangga.
  3. Memiliki satu kesatuan orang-orang  yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.
  4. Mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas.
Fungsi Keluarga
Terdapat 5 fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat menurut WHO, yaitu :
1)      Fungsi Biologis
·       Untuk meneruskan keturunan
·       Memelihara dan membesarkan anak
·       Memberikan makanan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi
·       Merawat dan melindungi kesehatan para anggotanya
·       Memberi kesempatan untuk berekreasi
2)      Fungsi Psikologis 
·       Identitas keluarga serta rasa aman dan kasih sayang 
·       Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya 
·       Perlindungan secara psikologis
·       Mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga lain atau masyarakat
3)      Fungsi Sosial Budaya atau Sosiologi
·       Meneruskan nilai-nilai budaya
·       Sosialisasi
·       Pembentukan noema-norma, tingkah laku pada tiap tahap perkembangan anak serta kehidupan keluarga
4)      Fungsi Sosial
·       Mencari sumber-sumber untuk memenuhi fungsi lainnya
·       Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan
·       Pengaturan ekonomi atau keuangan
5)      Fungsi Pendidikan
·       Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan fungsi-fungsi lain.
·       Persiapan untuk kehidupan dewasa.
·       Memenuhi peranan sehingga anggota keluarga yang dewasa
Bentuk Keluarga
Keluarga dibagi menjadi beberapa bentuk berdasarkan garis keturunan, jenis perkawinan, pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan.
1.    Berdasarkan Garis Keturunan 
·         Patrilinear adalah keturunan  sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
·         Matrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa ganerasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

2.    Berdasarkan Jenis Perkawinan
·         Monogami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan seorang istri.
·         Poligami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan lebih dari satu istri.

3.    Berdasarkan Pemukiman
·         Patrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga sedarah suami.
·         Matrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga satu istri
·         Neolokal adalah pasangan suami istri, tinggal jauh dari keluarga suami maupun istri.

4.    Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga
·         Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
·         Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara. Misalnya : kakak, nenek, keponakan, dan lain-lain.
·         Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
·         Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
·         Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
·         Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

5.    Berdasarkan Kekuasaan
·         Patriakal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah dipihak ayah.
·         Matrikal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
·         Equalitarium adalah keluarga yang memegang kekuasaan adalah ayah dan ibu.

B.       Pengertian Single Parent
Pengertian single parent adalah proses pengasuhan anak, hanya ada salah satunya, ayah atau ibu. Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah dan ibu berperan sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Namun, dalam kehidupan nyata sering dijumpai keluarga dimana salah satu orang tuanya tidak ada lagi. Keadaan ini menimbulkan apa yang disebut dengan keluarga dengan single parent.
Menurut Hurlock (1999) pengertian single parent adalah orangtua yang telah menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak diluar nikah (Hurlock, 1999).
Hammer&Turner (1990) menyatakan bahwa: “A single parent family consist of one parent with dependent children living in the same household” (Hamner&Turner, 1990). Sementara itu, Sager, dkk (dalam Duvall&Miller, 1985) menyatakan bahwa orang single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.
Sejalan dengan pendapat Sager, dkk, Perlmutter dan Hall (1985) menyatakan bahwa single parent adalah: “Parents without partner who continue to raise their children” (Perlmutter & Hall, 1985).
Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keluarga dengan single parent adalah keluarga yang hanya terdiri dari satu orang tua yang dimana mereka secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, tanggung jawab pasangannya dan hidup bersama dengan anak-anaknya dalam satu rumah.

C.      Penyebab Single Parent
1.    Pada keluarga Sah
a.    Perceraian.
Adanya ketidakharmonisan dalam kelurga yang disebabkan adanya perbedaan persepsi atau perselisihan yang tidak mungkin ada jalan keluar, masalah ekonomi / pekerjaan, salah satu pasangan selingkuh, kematangan emosional yangkurang, perbedaan agama, aktifitas suami istri yang tinggi di luar rumah sehingga kurang komunikasi, problem seksual dapat merupakan faktor timbulnya perceraian.
b. Orang Tua Meninggal.
Takdir hidup dan mati manusia di tangan Tuhan. Manusiahanya bisa berdoa dan berupaya. Adapun sebab kematian ada berbagai macam. Antaralain karena kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan, musibah bencana alam, kecelakaankerja, keracunan, penyakit dan lain-lain.
c. Orang Tua Masuk Penjara.
Sebab masuk penjara antara lain karena melakukan tindak kriminal seperti perampokan, pembunuhan, pencurian, pengedar narkoba atau tindak perdata seperti hutang, jual beli, atau karena tindak pidana korupsi sehingga sekian lama tindak berkumpul dengan keluarga.


d. Study ke Pulau lain atau ke Negara Lain.
Tuntutan profesi orang tua untuk melanjutkan study sebagai peserta tugas belajar mengakibatkan harus berpisah dengan keluarga untuk sementara waktu, atau bisa terjadi seorang anak yang meneruskan pendidikan di pulau lain atau luar negeri dan hanya bersama ibu saja sehingga menyebabkan anak untuk sekian lama tidak didampingi oleh ayahnya yang harus tetap kerja di negara atau pulau atau kota kelahiran.
e. Kerja di Luar Daerah atau Luar Negeri.
Cita-cita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik lagi menyebabkan salah satu orang tua meninggalkan daerah, terkadang ke luar negeri.
2. Pada Keluarga Tidak Sah
Dapat terjadi pada kasus kehamilan di luar nikah, pria yang menghamili tidak bertanggung jawab. Rayuan manis saat pacaran menyebabkan perempuan terbuai dan terpedaya pada sang pacar. Setelah hamil, tidak dikawini, dan ditinggal pergi sehingga perempuan membesarkan anaknya sendirian. Kasus yang lain pada perempuan korbanperkosaan yang akhirnya menerima kehamilannya ataupun perempuan WTS yang mempunyai anak menyebabkan anak tidak pernah mengenal dan mendapatkan kasih ayah
Saat ini perceraian menjadi cara yang umum untuk menjadi orang tua tunggal. Ibu yang bercerai lebih banyak mengalami kesulitan dalam masalah kekuasaan dan kedisiplinan. Beberapa ibu menjelaskan tentang beratnya mengemban tugas tersebut. Para ibu ini mulai terpaksa mulai bekerja diluar rumah untuk pertama kalinya guna memenuhi kebutuhan keuangan keluarganya dengan gaji pertama yang tidak begitu banyak. Beberapa diantaranya juga tidak dapat lagi menggantungkan kebutuhan keuangan dan emosonalnya kemantan suaminya.
George Levinger mengambil 600 sampel pasangan suami-istri yang mengajukan perceraian dan mereka paling sedikit mempunyai satu orang anak di bawah usia 14 tahun.
Levinger menyusun sejumlah kategori keluhan yang diajukan, yaitu:
1.    pasangannya sering mengabaikan kewajiban rumah tangga dan anak, seperti jarang pulang ke rumah, tidak ada kepastian waktu berada di rumah, serta tidak adanya kedekatan emosional dengan anak dan pasangan;
2.    masalah keuangan (tidak cukupnya penghasilan yang diterima untuk menghidupi keluarga dan kebutuhan rumah tangga);
3.    Adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan;
4.    pasangannya sering berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar serta menyakitkan;
5.    tidak setia, seperti punya kekasih lain dan sering berzina dengan orang lain;
6.    sering mabuk dan judi;
7.    ketidakcocokan dalam melaksanakan hubungan seksual;
8.    keterlibatan/ campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangannya;
9.    kecurigaan, kecemburuan serta ketidakpercayaan dari pasangannya
10.     Berkurangnya perasaan cinta sehingga jarang berkomunikasi, kurangnya perhatian dan kebersamaan di antar pasangan.
11.     Tuntutan yang dianggap berlebihan sehingga pasangannya sering menjadi tidak sabar, tidak ada toleransi dan dirasakan terlalu “menguasai”.

D.      Dampak Single Parent Terhadap Kehidupan Wanita
1.    Dampak Negatif
Ø  Perubahan Perilaku Anak.
Bagi seorang anak yang tidak siap ditinggalkan orang tuanya bisa menjadi mengakibatkan perubahan tingkah laku. Menjadi pemarah, barkatakasar, suka melamun, agresif, suka memukul, menendang, menyakiti temanya. Anakjuga tidak berkesempatan untuk belajar perilaku yang baik sebagaimana perilakukeluagra yang harmonis. Dampak yang paling berbahaya bila anak mencari pelarian diluar rumah, seperti menjadi anak jalanan, terpengaruh penggunaan narkoba untukmelenyapkan segala kegelisahan dalam hatinya, terutama anak yang kurang kasih sayang, kurang perhatian orang tua.

Ø  Perenpuan Merasa Terkucil.
Terlebih lagi pada perempuan yang sebagai janda atau yang tidak dinikahi, di masyarakat terkadang mendapatkan cemooh dan ejekan.
Ø  Psikologi Anak Terganggu.
Anak sering mendapat ejekan dari teman sepermainan sehingga anak menjadi murung, sedih. Hal ini dapat mengakibatkan anak menjadi kurang percaya diri dan kurang kreatif.
2.    Dampak Positif
Ø  Anak terhindar dari komunikasi yang kontradiktif dari orang tua, tidak akan terjadi komunikasi yang berlawanan dari orang tua, misalnya ibunya mengijinkan tetapi ayahnya melarangnya, Nilai yang diajarkan ole ibu atau ayah diteriam penuh karena tidak terjadi pertentangan.
Ø  Ibu berperan penuh dalam pengambilan keputusan dan tegar.
Ø  Anak lebih mandiri dan berkepribadian kuat, karena terbiasa tidak selalu hal didampingi, terbiasa menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.

3.      Dampak Single Parent Terhadap Perkembangan Anak
Ø  Tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik sehingga anak kurang dapat berinteraksi dengan lingkungan, menjadi minder dan menarik diri.
Ø  Pada anak single parent dengan ekonomi rendah, biasanya nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan terganggu.
Ø  Single parent kurang dapat menanamkan adat istiadat dan murung dalam keluarga, sehingga anak kurang dapat bersopan santun dan tidak meneruskan budaya keluarga,serta mengakibatkan kenakalan karena adanya ketidakselarasan dalam keluarga.
Ø  Dibidang pendidikan, single parent sibuk untuk mencari nafkah sehingga pendidikan anak kurang sempurna dan tidak optimal.
Ø  Dasar pendidikan agama pada anak single parent biasanya kurang sehingga anak jauh dari nilai agama.
Ø  Single parent kurang bisa melindungi anaknya dari gangguan orang lain, dan bila Dalam jangka waktu lama, maka akan menimbulkan kecemasan pada anak atau Gangguan psikologis yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak.

E.       Masalah Single Parent
1.         Masalah Single Parent Karena Tinggal Terpisah
Single parent yang terpisah dengan pasangan karena bekerja/belajar di kota/negara lain, memiliki beberapa masalah, seperti :
Ø  merasa kesepian,
Ø  tidak terpenuhinya kebutuhan seks sementara secara de jure ia seharusnya bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan seks dari pasangannya,
Ø  saat pasanganya berada jauh darinya, ia juga merasa berat membesarkan anak sendiri,
Ø  peran ganda : dimana seseorang harus berperan sebagai ibu atau ayah, sebagai pendidik dan kepala keluarga, sebagai pengatur rumah tangga dan pencari nafkah,
Ø  ancaman kesehatan : akibat peran ganda yang dijalani, wanita akan mengalami gangguan kesehatan seperti kelelahan, kecapean, kurang gizi, sehingga mengakibatkan angka kesakitan meningkat, hal ini diakibatkan karena kondisi fisik yang sering dipergunakan untuk melakukan suatu aktivitas secara berkelanjutan,
Ø  emosi labil : seseorang merasa tidak senang atau tidak puas dengan keadaan diri sendiri dan lingkungannya, rasa tidak puas ini mengakibatkan emosi seseorang tersebut menjadi labil dimana ia akan mengalami perasaan cemas, tidak berdaya, depresi dan mudah tersinggung.

2.         Masalah Single Parent Karena Kematian Pasangan
Hal ini terjadi bila salah satu pasangan meninggal maka seseorang akan menjadi single parent. Seseorang yang menjadi single parent karena kematian juga mengalami masalah yang berat. Kematian pasangan yang mendadak membuat ia tidak siap menerima kenyataan. Namun jika mendapatkan pelayanan pendampingan/konseling yang tepat, ia dapat melalui masa-masa gelapnya. Idealnya, ia harus mendapatkan konseling kedukaan yang tepat sehingga kedukaannya tidak berlarut-larut (tidak lebih dari 6 bulan). Kedukaan yang berlarut-larut memperlambat pemulihan hati anak-anaknya. Selain itu, beberapa single parent yang ditinggal mati pasangannya mengalami masalah keuangan, ancaman kesehatan, peran ganda dan merasa kesepian.
3.         Masalah Single Parent Karena Perceraian
Dibandingkan dengan kedua jenis single parent di atas, single parent yang berpisah dengan pasangannya karena perceraian, memiliki masalah yang lebih serius lagi. Setidaknya tercatat ada 6 masalah besar, yaitu :
1.Masalah emosional.
2.Masalah hukum (hak asuh anak, dan lain-lain).
3.Menjalin hubungan baik dengan mantan suami/istri.
4.Menghadapi anak.
5.Masalah dengan lingkungan.
6.Masalah keuangan.
7.Masalah kesehatan.
8.Peran Ganda

Kondisi emosional single parent pasca perceraian :
1.Kecewa.
2.Marah.
3.Mencari kambing hitam.
4.Membenci mantan suami/istrinya.
5.Cemburu terhadap rivalnya.
6.Mudah marah kepada anak-anak.
7.Luka batin/trauma.
8.Kesepian
9.Merasa tak berharga.
10.Merasa teraniaya oleh lingkungan.
11.Mengasihani dirinya sendiri
4.         Masalah single parent pasca cerai dengan anak-anaknya :
a.       Single parent yang belum mengampuni dan masih membenci mantan suami/istrinya akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anaknya.
b.      Single parent seringkali tidak menyadari bahwa ia bukan "super man/super women" sehingga di depan anak-anaknya ia berusaha menunjukkan dirinya perkasa dan dapat menyelesaikan segala sesuatu tanpa orang lain. Ia tidak melihat bahwa anak-anaknya memerlukan tokoh pengganti ibu/ayah.
c.       Single parent pasca perceraian juga mengalami masalah dengan mantan pasangannya.
5.         Apa yang dibutuhkan seorang single parent saat menghadapi situasi yang sulit pasca perceraiannya?
a.    Single parent perlu menjalani konseling pribadi untuk membagi beban/pergumulannya.
b.    Jika diperlukan, single parent juga bisa menjalani terapi untuk recovery dari trauma-traumanya.
c.    Dukungan sosial/komunitas teman senasib (sesama single parent) juga dibutuhkan untuk menguatkan hati seorang single parent..
d.   Mendidik anak bersama-sama pasangan saja tidak mudah, apa lagi untuk menjadi single parent yang harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri.
e.    Seorang single parent juga perlu melatih diri untuk bersikap bijaksana terhadap lingkungan.
f.     Untuk mengatasi masalah ekonomi, seorang single parent membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan/memanfaatkan talentanya dalam kegiatan-kegiatan produktif.

F.       Penanganan Single Parent
1.    Memberikan Kegiatan Yang Positif.
Berbagai macam kegiatan yang dapat mendukung anak untuk lebih bisa mengaktualisasikan diri secara positif antara lain dengan penyaluran hobi, kursus sehingga menghindarkan anak melakukan hal-hal yang positif.
2.    Memberi Peluang Anak Belajar Berperilaku Baik .
Bertandang pada keluarga lain yang harmonis memberikan kesempatan bagi anak untuk meneladani figur orang tua yang tidak diperoleh dalam lingkungan keluarga sendiri.

3.    Dukungan Komunitas.
Bergabung dalam club sesama keluarga dengan orang tua tunggal dapat memberikan dukungan karena anak mempunyai banyak teman yang bernasib sama sehingga tidak merasa sendirian.
Upaya Pencegahan Single Parent dan Pencegahan Dampak Negatif Single Parent
·      Pencegahan terjadinya kehamilan di luar nikah.
·      Pencegahan perceraian dengan mempersiapkan perkawinan dengan baik dalam segi psikologis , keuangan, spiritual.
·      Menjaga komunikasi dengan berbagai sarana teknologi informasi.
·      Menciptakan kebersamaan antar anggota keluarga.
·      Peningkatan spiritual dalam keluarga.




DAFTAR PUSTAKA

http://intand14kiiroi.blogspot.com/2012/07/masalah-single-parent.html